Beradab atau Berilmu, Mana yang Didahulukan?

Siang itu lumayan cukup terik, saya memutuskan untuk membeli minuman dingin di minimarket dekat perkantoran. Sayangnya saat hendak membayar antrean lumayan cukup panjang dan hanya satu kasir yang melayani, kira-kira saya sendiri berada di baris ke-5 dari depan. Tiba di saat giliran saya seketika datang seorang ibu dengan anak laki-lakinya yang masih kecil entah muncul dari mana langsung menyerobot tanpa permisi.

Spontan saya berucap, “Bu bisa ikut antre dulu!” dengan nada biasa cenderung masih halus dan sopan, karena saya juga melihat di posisi belakang ada orang yang sedang menunggu dan saya ingin menghargai mereka juga. Mungkin kalau berada di akhir giliran saya akan mempersilahkan, paling hanya menggerutu dalam hati.

Lantas apa respon yang saya dapat, dengan lantang dengan penuh percaya diri Si Ibu berkata, “bentar kok Mas saya cuma beli minum aja!” Hah? Memang yang ada di tangan saya apa kalau bukan satu buah minuman dingin. Tak mau kalah begitu saja, saya tetap berupaya mempertahankan hak dan antrean yang ada di belakang. Syukurlah petugas kasir mini market turun tangan menertibkan dan meminta ibu bersama anaknya untuk turut ikut mengantre.

Dirasa tidak memuaskan hatinya, sang ibu yang berpenampilan layaknya pekerja kantoran yang cukup profesional itu marah-marah dan mengembalikan barang yang hendak dibelinya, kemudian pergi begitu saja meninggalkan tempat dengan celotehan terdengar cukup kasar.  

Dari contoh di atas, kita tentu pernah menemukan atau bahkan mengalami sendiri kejadian diserobot antrean oleh orang lain. Sebenarnya saya cukup prihatin dengan ibu tersebut, pertama kalau dilihat penampilan beliau harusnya mencerminkan orang yang cukup berpendidikan, saya duga ibu itu juga merupakan pegawai kantor. Kedua saya justru miris melihat ibu tersebut malah memberikan contoh yang buruk ke anak sendiri dengan mengambil hak orang lain dan berkata kasar.

Baca juga : Hobi Menulis Blog Terapkan Juga Etikanya

Apa yang bisa kita pelajari dari peristiwa tersebut? Begini, di zaman dengan penuh keterbukaan teknologi dan informasi seperti sekarang ini, tentu masyarakat kita mendapatkan akses pendidikan dengan mudah, khususnya di kota-kota besar. Persaingan yang cukup tinggi serta ketat pun memaksa para orang tua memerintahkan anak-anaknya untuk belajar setinggi dan sepintar mungkin.

Namun ada yang luput dari hanya sekedar mencari ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya, ada yang tahu? Ya, kehalusan, kebaikan budi pekerti, kesopanan, etika, akhlak atau apapun kita menyebutnya semua merujuk pada adab.  

Coba lihat berita di televisi, apa yang masih dan terus kita temukan, yakni kejadian tentang oknum pejabat pemerintahan yang tertangkap tangan melakukan korupsi. Perhatikan mereka, lihat penampilannya, cari tahu latar belakang pendidikanya, dan bagaimana sepak terjang dalam  meniti karier. Apa mereka menampakan orang yang kurang mendapat pendidikan?

Baca juga : Memposisikan Diri Menjadi Pendengar yang Baik

Mungkin secara akademi mereka sudah terbilang mumpuni, begitu pun ibu yang menyerobot antrian. Tetapi apakah kecerdasan intelektual mereka dirasa cukup sebagai bekal kehidupan bermasyarakat, biarkan masing-masing dari kita yang menilainya yang jelas kecakapan mereka dalam berilmu ternyata tidak dibarengi dengan abab yang cukup baik.

Jadi ketika ditanya mana yang perlu didahulukan ilmu atau adab? Semuanya sama-sama penting untuk kita gapai dan terapkan. Tetapi alangkah baiknya jika kita lebih mendahulukan adab daripada ilmu, seperti pepatah yang sering kita dengar, orang beradab sudah pasti berilmu, orang berilmu belum tentu beradab.

Tinggalkan komentar