Kenapa Pelajar Laki-Laki Dilarang Berpenampilan dengan Rambut Gondrong?

Dulu, ketika saya masih duduk di bangku sekolah selalu ada pertanyaan yang mengganjal di dalam hati. Mengapa anak laki-laki tidak diperkenankan perpenampilan dengan rambut gondrong. Apa ruginya jika memiliki rambut gondrong? Dari mana awal mula aturan ini diterapkan?

Sebenarnya saya sendiri enggak pernah terkena hukum kedisiplinan soal rambut di sekolah. Saya selalu menerapkan model rambut pendek sesuai dengan ketentuan yang telah ditetap oleh tata tertib sekolah. Namun, saya seringkali menyaksikan beberapa teman yang harus ditertibkan karena punya rambut gondrong dan mendapat sanksi pencukuran secara langsung.

Penasaran dengan pertanyaan yang belum terjawab tersebut, akhirnya saya mencoba mencari tahu dari mana asal mula budaya atau aturan ini sangat melekat pada pelajar laki-laki di Indonesia. Akhirnya saya mencoba melakukan riset untuk mencari tahu asal muasalnya.

Berdasarkan hasil pencarian, larangan rambut gondrong bagi laki-laki muncul di era orde baru di antara akhir 1960-an hingga 1970-an. Pemerintah pada zaman saat itu, tidak menyukai melihat adanya laki-laki memiliki rambut yang panjangnya melebihi tengkuk kepalanya dan terlihat urakan.  

Dilansir dari historia.id, pada saat itu rambut gondrong dianggap tidak mencerminkan “kepribadian bangsa.” Bahkan mulai muncul stigma bahwa laki-laki yang berambut gondrong atau panjang, dikaitan dengan kejahatan. perilaku menyimpang, berandalan, dan hal negatif lain yang membahayakan.

Di tahun 1971, para artis laki-laki yang memiliki rambut gondrong dilarang untuk tampil di TVRI. Pelan-pelan larangan ini kemudian menyebar dari gedung pemerintahan, institusi pendidikan (kampus dan sekolah), serta sampai ke tempat publik. Larangan ini juga dianggap serius ketika muncul aparat yang ditugaskan di jalan-jalan untuk merazia laki-laki yang berambut gondrong.

Kembali ke institusi pendidikan, dalam buku berjudul Dilarang Gondrong!: Praktik Kekuasaan Orde Baru Terhadap Anak Muda Awal 1970an, karya Aria Wiratma Yudhistira, menyebutkan pada saat itu pemerintah orde baru melakukan pengekangan terhadap anak muda yang berambut gondrong. Seperti tindakan diskriminatif baik di sekolah maupun kuliah.

Jelas sudah kita ketahui bersama bahwa larangan berambut gondrong bagi anak laki-laki di sekolah bermula dari aturan pada era kekuasaan orde baru. Lalu, mengapa saya yang bersekolah di tahun 2000-an masih juga merasakan dampak dari kebijakan lama tersebut? 

Rambut Gondrong dan Kedisiplinan

foto oleh: jogjapolitan.harianjogja.com

Loh apa hubungannya dengan orang yang yang berambut gondrong dengan kedislipinan? Dahulu pada saat zaman larangan tersebut muncul, rambut gondrong sudah kaitkan dengan kriminalitas. Bagaimana dengan koruptor yang wara wiri dilihat di televisi saat ini. Mereka tidak berambut gondrong, bahkan rambut dan penampilannya terlihat rapih, nyatanya mereka bisa berbuat kejahatan.  

Perubahan zaman perlahan-lahan sudah mulai menggeser stigma negative orang dengan rambut gondrong dengan kejahatan. Namun, aturan pelarangan rambut gondrong tetap diterapkan hingga kini di sekolah-sekolah, terutama di sekolah milik pemerintah atau sekolah negeri (karena yang saya tahu ada beberapa sekolah swasta yang lebih fleksible soal larangan rambut gondrong, namun ada juga sebaliknya).

Melansir dari kumparan.com, Satria Darma seorang pengamat pendidikan menjelaskan, kontes penampilan rambut gondrong kini telah berubah. Menurutnya, alasan sekolah-sekolah saat ini menerapkan larangan rambut gondrong adalah untuk menertibkan siswa untuk disiplin dengan penampilan yang rapih dan tentunya mencerminkan karakter kaum terpelajar.

Walaupun begitu, Satria Darma juga mengungkapkan bahwa kedislipinan tidak ada hubungannya dengan gaya atau model rambut. Mencermati apa yang disampaikan Satria Darma, saya setuju memang kedislipinan itu tidak hanya ditentukan dari gaya rambut saja. Banyak aspek penting lain yang juga bisa mendukung untuk seseorang menjadi disiplin.

Sebenarnya aturan ini dikembalikan lagi pada kesepakatan sekolah dan siswa yang menjalankannya. Saya sudah mencoba mencari, tidak ada aturan yang secara tertulis mengenai pelarangan rambut gondrong yang dikeluarkan institusi resmi, yakni Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemdikbud).

Kalau kalian bagaimana, lebih setuju pelajar berambut gondrong atau tidak? Sharing yuk.

Tinggalkan komentar