Memposisikan Diri Menjadi Pendengar yang Baik

Tiba-tiba terdengar suara notifikasi menginterupsi perhatian, muncul nama yang sudah tidak asing, itu dari kawan saya. Dalam pesannya dia memulai dengan memanggil nama saya, diikuti dengan kalimat, “lagi sibuk, bisa telepon enggak?” Saya langsung menepi dari rutinitas terlebih dahulu, seperti biasa ada kabar yang ingin dia ceritakan.

Sudah menjadi kebiasaan saya menerima pesan atau panggilan mendadak dari seorang kawan. Apa lagi kalau bukan sekadar untuk bercerita, biasanya berita yang lebih sering dapatkan berkaitan dengan kesedihan, keluh kesah, atau kabar tak mengenakan lainnya. Namun bukan berarti saya juga tak mendapatkan berita baik ya.

Bukan hanya satu atau dua orang, ada beberapa nama yang sering menghubungi untuk berbincang mengenai permasalahannya. Sesekali seorang kawan membagikan mengenai kesulitannya di tempat kerja, atasannya yang selalu micromanagement, rekan kerja yang toxic, pembagian kerja yang tidak jelas, dan lainnya.

Atau saya bisa mendapat kabar mengenai permasalahan cinta, tentu dari kawan yang lain. Bahwa dia bertemu seseorang dari aplikasi kencan, chat dengan intens dan sudah merasa cocok kemudian dilanjutkan bertukar nomor. Akhirnya memutuskan untuk melakukan pertemuan, setelah itu tidak ada kabar dari sang gebetan alias di-ghosting.

Bahkan saya juga pernah mendengarkan permasalahan rumah tangga yang cukup pelik untuk dihadapi, dengan suami yang berperilaku kasar atau mertua yang terlalu ikut mengatur persoalan di tengah keluarga mereka.

Baca juga : Hobi Menulis Blog Terapkan Juga Etikanya

Semuanya saya usahakan dengarkan dengan cukup baik dan penuh perhatian. Tak satu pun cerita mereka dilewatkan. Suatu waktu mereka cerita kembali duduk permasalah yang sama, saya masih mengingatnya dengan jelas.

Lelah, bosan, malas? tentu tidak, justru senang ketika teman membutuhkan pertolongan saya. Mengapa saya menyebut sebagai pertolongan? Karena bagi saya, ketika kita tidak bisa membantu dalam bentuk materi, tenaga, atau bentuk yang tangible lain, menjadi seorang pendengar yang baik sudah cukup membantu.

Saya atau bahkan di antara kita semua tentu sering mendengar ucapan seorang tokoh filsuf stoa, Epictetus, tentang ucapannya we have two ears and one mouth so that we can listen twice as much as we speak (kita memiliki dua telinga dan satu mulut sehingga kita dapat mendengarkan dua kali lebih banyak daripada berbicara).

Nasihat ini benar-benar saya coba terapkan, hanya mendengar? Iya betul, saya hanya mendengarkan saja cerita mereka, tak lebih. Jarang saya memberikan sebuah saran dan masukan jika memang tidak dimintai, karena bagi saya itu bukan menjadi keahlian atau kapasitas saya.

Karena memang itu yang hanya dibutuhkan oleh seorang kawan, mereka hanya perlu tempat dan waktu untuk didengarkan kisahnya. Apakah lantas mengetahui kisah mereka saya jadi berpandangan buruk atau bahkan menjauhkan diri, oh tentu tidak.  

Belum terlintas di benak saya untuk menghakimi atau langsung memberikan penilaian dari semua kejadian yang teman saya alami. Sebagai seorang teman saya mencoba sebaik mungkin mencoba menempatkan diri di posisi mereka.

Begitulah cara saya untuk menanamkan rasa empati ke dalam diri, meski mungkin tak sependapat dengan sikap, perilaku, atau tindakan mereka. Biarlah itu menjadi urusan mereka dan orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Begitulah cara saya menolong seseorang, hanya berupaya menjadi pendengar yang baik tanpa perlu merasa takut menyinggung, meremehkan, atau membuat mereka merasa terpuruk. Hidup mereka sudah cukup rumit, jangan ditambah dengan membuat penilaian mengenai apapun masalahnya.

Tinggalkan komentar