Novel Pertama yang Menumbuhkan Ketertarikan

Setiap orang tentu memiliki pengalaman berkesan yang bisa mengubah hidup dan seringkali banyak hal dapat mengingatkan akan pengalaman tersebut, misal dari aroma, suasana, atau sebuah benda. Saya bukan lah orang yang begitu gemar membaca, namun ada sebuah novel fiksi yang cukup popular berhasil memicu ketertarikan saya pada membaca.  

Siapa di antara kita yang tidak mengenal novel fantasi Harry Potter? Serial yang memiliki tujuh judul ini kerap mendapatkan pernghargaan best-selling untuk setiap bukunya.

Novel karya penulis J.K. Rownling mengkisahkan petualangan seorang anak laki-laki yatim piatu bernama Harry Potter yang tinggal bersama paman, bibi, dan sepupunya, namun selalu mengintimidasi kehadiran Harry. Hingga di ulang tahun yang ke-11, Harry mengetahui dirinya adalah seorang penyihir. Dan dari sini semua petualanganya di mulai, dari megenal Hogwarts sekolah sihir yang terkenal di Inggris, bertemu dengan sabatnya Ron dan Hermione, hingga mengetahui musuhnya bernama Voldemort.

Serial Harry Potter merupakan novel pertama yang saya baca serta miliki dan untuk mendapatkannya saya tidak membeli. Bagi anak sekolah, harga novel Harry Potter tidak bisa dikatakan murah, terlebih bagi saya yang pada saat itu uang jajan tidak seberapa jumlahnya.

Sebenarnya saya sudah sangat lama menginginkan novel ini karena waktu itu Harry Potter cukup digandrungi apalagi ketika serial pertama Harry Potter and the Sorcerer’s Stone diangkat dalam film layar lebar. Anak-anak mana yang tidak tertarik dengan cerita khayalan menjadi seorang penyihir dengan petualangan mengasyikkan sekaligus menegangkan.  

Ketika memohon pada untuk dibelikan kepada ibu, beliau tak mendukung permintaan saya. Saat itu kondisi perekonomian keluarga belum bisa dikatakan mapan untuk sekadar membeli sebuah novel yang menjadi kebutuhan tersier. Alhasil dengan rasa sedih saya mengubur keinginan untuk bisa memiliki novel Harry Potter.  

Bersyukur seorang saudara mendengar keinginan saya dan dengan baik hati dia menawarkan empat serial Harry Potter. Meski bukan terbilang novel baru serta hanya lungsuran, saya sangat senang hati menerima pemberiannya.

Baca juga : Beradab atau Berilmu, Mana yang Didahulukan?

Karena begitu tertarik dengan barang yang begitu diidam-idamkan saya awali dengan mengobservasi dengan teliti, terlihat kertas yang sudah cukup terlihat usang, lipatan kertas di beberapa baris halaman, dan saya mencium sebuah aroma kayu namun begitu khas, meski begitu itu semua tidak masalah. Saya pun membaca dan berdecak kagum dengan seluruh isi cerita di dalamnya.  

Saya begitu terpesona akan fatasi penulis dalam membentuk dunia sihir, meganggumi cara mendeskripsikan tokoh, senang akan jalan cerita dan konflik yang disuguhkan, dan masih banyak perkara lainnya.

Dari hanya sekadar membaca novel Harry Potter, perlahan-lahan tumbuh ketertarikan saya dalam membaca. Menurut saya membaca buku terlihat keren dan saat kita melihat serta memahami isi dari apa yang disampaikan seorang penulis, wawasan kita jadi turun terbuka lebar.

Menariknya semenjak saya membaca novel, tulisan tangan saya yang semula dikatakan sebagai “cakar bebek” ada perubahan. Beberapa teman, guru, dan saudara yang melihat catatan di buku saya tidak mengira kalau goresan huruf dan angka itu muncul dari jemari saya. Beberapa dari mereka memberikan pujian karena tulisan tangan saya begitu bagus.

Meskipun hingga saat ini belum banyak judul buku yang saya baca, setidaknya saya terus berupaya menanamkan minat baca. Karena saya sendiri sudah merasakan manfaat dari membaca, seperti menemukan sudut pandang baru, sebagai hiburan, hingga menjadi sumber inspirasi yang dapat dipergunakan dalam pekerjaan.

Tinggalkan komentar