Tak Perlu Merasa Minder karena Kita Semua Bernilai

Waktu lalu saya menonton film Encanto karya rumah produksi Disney dan saya belajar banyak dari tokoh bernama Mirabel Madrigal. Seketika pertanyaan yang sering terlontar untuk mengutuk diri, seperti mengapa kita tidak bisa menjadi hebat seperti yang lain, mengapa kita tidak bermanfaat, mengapa kita tidak bisa membanggakan, dan masih banyak kata mengapa yang selalu membuat diri kita merasa tidak minder.

Untuk yang penasaran dengan jalan cerita lengkapnya silahkan dapat menonton secara streaming, di sini saya hanya akan bercerita singkat mengenai pelajaran apa yang bisa kita petik bersama. Singkatnya, tokoh protagonis utama Bernama Mirabel Madrigal lahir dari sebuah keluarga yang diberikan karunia, Mirabel yang tidak memiliki keistimewaan apa pun, setidaknya itulah yang orang di sekitarnya tetap menjalani kehidupannya dengan riang.

Iya, meski sang tokoh utama tidak diberikan karunia seperti keluarga besarnya yang lain, dia tetap mencoba untuk menerima dan berupaya membangkan keluarga. Meski dia sendiri dianggap sebelah mata, Mirabel tetap menjalankan dengan tabah.

Tapi siapa yang tahu dalamnya hati manusia, awalnya Mirabel sudah dapat menerima kekurangan dan tetap berupaya dengan cara dia sendiri. Namun, sayang segala yang dilakukannya selalu kurang dan bahkan tidak dianggap layak. Hinggal diakhir cerita, justru dia yang dianggap tidak memiliki keistimewaan inilah yang mengankat derajat keluarga semakin tinggi.

Dari cerita singkat perjalanan Mirabel di atas saja kitab isa bersama bahwa fenomena ini bukan hanya ada di kisah-kisah film Disney. Tentunya ada Sebagian di antara kita yang dianggap kehadirannya tidak membawa manfaat dan justru hanya menjadi sebuh beban.   

Baca juga : Menemukan Keunggulan dari Mengenal Diri

Saya punya seorang teman, secara akademis bisa dikatakan tidak menonjol dan hanya biasa-biasa saja. Saat waktu kelulusan banyak yang sudah mendapat pekerjaan, namun tidak begitu dengan dia. Sedih tentu, tapi dia tidak menunjukan kesediahannya. Sedidaknya begitu yang dia akui ke saya pada akhirnya.

Bagai sebuah arus sungai yang diam-diam menghanyutkan, dia menyusun sebuah rencana yang bahkan keluarganya tidak ketahui. Sampai akhirnya saya mendapatkan sebuah kabar cukup mengejutkan sekaligus menyenangkan. Dia diterima bekerja di instansi pemerintahan yang bergengsi.  

Akhirnya dia juga menceritakan proses yang diajalanin untuk diterima kerja, pada saat itu dia mendengar bahwa sedang ada rekrutmen besar-besaran di instansi tersebut. Tanpa fikir Panjang dan mendaftarkan diri tapi tidak asal mendaftar. Dia dengan tekun mempelajari semua seluk beluk proses penerimaan yang cukup panjang tersebut.

Saya pun penasaran apa yang membuat berhasil selain belajar dengan giat tentunya. Dia memperhatikan dan mempelajari apapun yang ada di sekitarnya. Termasuk ketika beberapa temannya sering menceritakan pengalaman mereka. Tampaknya dia saya tidak hanya mendengarkan tapi betul-betul mengolahnya untuk menjadi sebuah amunisi senjata.

Dari situ saya juga belajar, bahwa setiap orang memang sudah diciptakan semikian rupa dengan memiliki kemampuan masing-masing. Kita tidak bisa menyamakan dan membandingkan kemampuan orang lain dengan diri kita, tentu hal tersebut berbeda.

Saya yang awalnya sering merasa rendah diri karena selalu merasa kurang, kembali mengevalusi bahwa setiap dari kita tentu punya nilai, kecil atau besar tentu itu akan sangat berarti. Jika kita mau dan siap menggalinya lebih dalam, tentu kemampuan itu akan muncul dengan sendirinya. Asal bersungguh-sungguh untuk melatihnya.

Tinggalkan komentar